BAB
I
PENDAHULUAN
Farmakogalenika
(galenika) adalah ilmu yang mempelajari soal-aoal yang timbul karena
mempergunakan tumbuh-tumbuhan atau hewan sebagai obat-obatn lain, cara-cara
untuk membusat rebusan dari tanaman obat.
(Hmf,
unhas, 1989)
Istilah galenika diambil dari anam
seorang tabib yunani yaitu glaudius galenus galen yang membuat sediaan
obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan, sehingga timbullah ilmu
obat-obatan yang disebut galenika, jadi galenous sangat berjasa dalam bidang galenika karena telah merintis dan
mencatat cara pembuatan sediaan galenika.
Sedaiaan gelinaka adalah yang di
buat dari bahan-bahan hewan atau tumbuhan yang diambil sarinya. Zat-zat yang
tersari (berkhasiat) biasanya terdapat dalam sel-sel bagian tumbuhan uyang
umumnya dalam keadaan kering. Cairan penyari masuk kedalam zat-zat berkhasiat
utama dari pada simplisia yang akan di ambil sarinya, kemudian zat berkhasiat
tersebut akan terbawa larut dalam cairan penyari, setelah itu larutan yang
mengandung zat berkhasiat dipisahkan dari bagian simplisia yang kurang
bermanfaat.
Penyarian adalah kegiaan penarikan
zat yang dapat larut dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair,
simplisia yang disari mengandung zat aktif yang dapat larut, dan zat yang tidak
larut seperti serat, karbohidrat, protein, dab lain-lain. Bentuk-bentuk sediaan
galenika adalah; ekstrak, tincture, decocta/infus. Hasil penyulingan atau
pemerasan; aqua aromatik, minyak menguap (aloe velancia) dan olea pinguila
(minyak lemak).
(joko
hargono, diskus. 1986)
Adapun maksud percoaan adalah untuk
membuat ekstrak atau cara mengekstraksi bahan atau sampel dari miana merah
Adapun tujuan percobaan adalah untuk
mengetahui dan memahami cara pembuatan ekstrak dari bahan atau sampel miana
merah
Adapun prinsip percobaan adalah
berdasarkan proses penyarian dimana miana merah direndam didalam alkohol
kemudian ditutup dengan aluminium foil dan di dibiarkan selama 5x24 jam yang
kemudian disari dan diambil ekstraknya.
BAB
II
TINJAUAN
PUSTAKA
A. Teori
Ringkas
Ekstrak adalah sediaan yang dapat berupa
kering, kental dan cair dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut
cara yang sesuai, yaitu maserasi, perkolasi, atau penyeduhan dengan air
mendidih, sebagai cairan penyari digunsksn air, eter atau campuran air,
dialkukan dengan cara maserasi atau perkolasi penyarian denga air dilakukan
dengan car maserasi. Perkolasi atau disiram dengan air mendidih.
Pada
pembuatan sediaan ekstrak dimaksudkan agar zat berkhasiat yang terdapat di
simplisia terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar yang tinggi dan hal ini
memudahkan zat berkhasiat dapat diatur dosisnya. Dalam sediaan ekstrak dapat
distandarisasikan kadar zat berkhasiat sedangkan kadar zat berkhasiat dalam
simplisia sukar di dapat yang sama. (muh.arief . 2010)
Menurut
FI Edisi IV, ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi
zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia heawni menggunakan pelarut yang
sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut di uapkan dan massa atau
serbuk yang beku yang ditetepkan. (syamsuni, 2006)
Menurut
literatur lain, ekstrak ada 3 macam yaitu ekstrak kering (sickum) kental
(spicum), dsn cair (liquidum), yang dibuat sesuai diluar pengaruh cahaya
matahari langsung. Ekstrak yang kering namun mudah di gerus menjadi serbuk.
Cairan penyari yang dipakai adalah air, eter, campuran etanol dan air. (syamsuni,
2006)
Ekstrak
dapt dibedakan menjadi 3 golongan:
1. Ekstrak
terstandarisasi (sejati)
Ekstrak terstandarisasi sejati adalah ekstrak dengan
kandungan aktif (tunggal atau banyak) yang diketahui. Oleh karena itu, ekstrak
tersebut dapat distandarisasi menjadi kandungan aktif yang jelas serta jumlah
pasti bahan alam aktifnya.
2. Ekstrak
terkuantifikasi
Ekstrak ini merupakan dengan kandungan yang memiliki
aktifitas terapuitik atau parakolakis yang diketahui.
3. Ekstrak
lain
Ekstrak-ekstrak ini umumnya dipakai secara
parakalikis namun zat yang m,emberikan aktifitas ini tidak diketahui sehingga
harus dibuat penanda mutu. (diuslas kingdom 2009)
Metode
dasar dari ekstraksi adalah maserasi atau perkolasi. Biasanya metode ektraksi
dipilih berdasarkan beberapa faktor seperi sifat dari bahan mentah obat dan day
penesuaian denga tiap macam metode ekstark yang sempurna atau mendekati
sempurna dari obat sifat dari bahan mentah merupaka faktor utama yang harus
dipertimbangkan dalam memilih metode ekstraksi. Beberapa obat tidak dapat
diperkolasi ynag mengisyaratkan bahwa harus dapdt digiling sehingga menjadi
serbuk yang rata dan dimasukkan kedalam perkolator dengan memadatkan dan
diratakan obat lain. Walaupun dapat dimasukkan kedalam perkolator dapat
melepadskan zat aktifnya dengan mudah kedalam pelarut, diaman benar-benar
dibutuhka untuk direndam didalamnya untuk menyediakan ekstrak yang memuaskan.
Bahan tersbut dapat diekstrkasi dengan maserasi bukan dengan perkolasi. Proses
perkolasi mrupakan keterampilan operator yang lebih abnak dari pada proses
maserasi dan dari kedua proses memerlukan peralatan yang khusus dan waktu yang
lebih banyak diperlukan oleh operator. (howard C. Ansel,1989)
B. Uraian
Metode
1. Metode
Maserasi
Maserasi merupakan car apenyarian yang
sederahana. Maserasi dilakukan dengan car amerandam serbuk simplisia dalam
cairan penyari.
Maserasi digunakan untuk penyarian
simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari,
tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak
mengandung benzen, serat, dan lain-lain.
Cairan penyari digunakan dpat berupa
air, etanol, etanol air, etanol atau pelarut lain. Bila cairan penyari
digunakan air maka untuk mencagah timbulnya kapang, dapat ditambahkan pengawet
yang diberikan pada awal penyarian.
Keuntungan penyarian dengan cara
maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederahana dan
mudah diusakan.
Kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya
lama dan penyariannya kurang sempurna
2. Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang
dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplsia yang telah
dibasahi.
Prinsip
perkolasi adalah serbuk simpliksia yang ditempatkan dalam suatu bejana silender
yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari di alirkan dari atas
kebawah melalui serbuk tersebut. Cairan penyari akan melarutkan zat aktif
sel-sel ayng dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak dibawah disebabkan
oleh kekuatan gayanya sendiri adan cairan diaatasnya, dikurangi dengan daya
kapiler ya ng cenderung menahan.(djoko hargono, dkk, 1986)
C. Uraian
Tumbuhan
1. Klasifikasi
Miana Merah (Coleus sp)
Regnum : Plantarum
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Class : dicotyledonae
Ordo : Solanales
Family : Labilataceae
Genus : Coleus
Spesies : Coleus sp
(Anonim
2012)
2. Morfologi
Herba tegak atau berbaring pada pangkal
dan ditempat itu berakar banyak menahan, harum, tinggi 9,5-1,5 m, batang-batang
berambut. Tangkai daun 2-9 cm, helai daun bulat telur, dan pangkal yang
membulat atau bentuk biji dan ujung yang menyempit, diatas pangkal yang tepi
beringggit kasar, bebbeda berambut dan warna. Bung dalam anak payung yang
berhadapan 0,5-5 cm, yang terkumpul lagi menjadi tandan lepas di ujung atau
mulai yang bercabang lebar. Anak tangkai daun berambut dan terdapat bintik
kelenjar kuning banayak, panjng 2-3 mm.(Van stoense, dkk, 1972)
3. Kegunaan
Sebagai obat wasir, pemulih haid,
penambah nafsu makan (Anonim 2012)
D. Uraian
Bahan
1. Alkohol
(Depkes RI 1979, hal.65)
Nama
resmi : AETHANOLUM
Nama
lain : alkohol
Rumus
molekul : C2H6O
Berat
molekul : 46,07
Pemerian
:
cairan
tidak berwarna, tengik, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas; rasa panas;
mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan :
sangat
mudah larut dalam air dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan :
dalam
wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya; ditempat sejuk jauh dari nyala
api.
Khasiat : zat tambahan
2. Aquadest
(Depkes RI 1979, hal. 96)
Nama
resmi : AQUA DESTILLATA
Nama
lain : air suling
Rumus
molekul : H2O
Berat
molekul : 18,02
Pemerian :
cairan
jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa
Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Tidak ada komentar:
Posting Komentar