Selasa, 14 Januari 2014

laporan galenika

BAB I
PENDAHULUAN

Farmakogalenika (galenika) adalah ilmu yang mempelajari soal-aoal yang timbul karena mempergunakan tumbuh-tumbuhan atau hewan sebagai obat-obatn lain, cara-cara untuk membusat rebusan dari tanaman obat.
(Hmf, unhas, 1989)
            Istilah galenika diambil dari anam seorang tabib yunani yaitu glaudius galenus galen yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan, sehingga timbullah ilmu obat-obatan yang disebut galenika, jadi galenous sangat berjasa dalam  bidang galenika karena telah merintis dan mencatat cara pembuatan sediaan galenika.
            Sedaiaan gelinaka adalah yang di buat dari bahan-bahan hewan atau tumbuhan yang diambil sarinya. Zat-zat yang tersari (berkhasiat) biasanya terdapat dalam sel-sel bagian tumbuhan uyang umumnya dalam keadaan kering. Cairan penyari masuk kedalam zat-zat berkhasiat utama dari pada simplisia yang akan di ambil sarinya, kemudian zat berkhasiat tersebut akan terbawa larut dalam cairan penyari, setelah itu larutan yang mengandung zat berkhasiat dipisahkan dari bagian simplisia yang kurang bermanfaat.
            Penyarian adalah kegiaan penarikan zat yang dapat larut dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair, simplisia yang disari mengandung zat aktif yang dapat larut, dan zat yang tidak larut seperti serat, karbohidrat, protein, dab lain-lain. Bentuk-bentuk sediaan galenika adalah; ekstrak, tincture, decocta/infus. Hasil penyulingan atau pemerasan; aqua aromatik, minyak menguap (aloe velancia) dan olea pinguila (minyak lemak).
(joko hargono, diskus. 1986)
            Adapun maksud percoaan adalah untuk membuat ekstrak atau cara mengekstraksi bahan atau sampel dari miana merah
            Adapun tujuan percobaan adalah untuk mengetahui dan memahami cara pembuatan ekstrak dari bahan atau sampel miana merah
            Adapun prinsip percobaan adalah berdasarkan proses penyarian dimana miana merah direndam didalam alkohol kemudian ditutup dengan aluminium foil dan di dibiarkan selama 5x24 jam yang kemudian disari dan diambil ekstraknya.
                                                                                                        



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Teori Ringkas
Ekstrak adalah sediaan yang dapat berupa kering, kental dan cair dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai, yaitu maserasi, perkolasi, atau penyeduhan dengan air mendidih, sebagai cairan penyari digunsksn air, eter atau campuran air, dialkukan dengan cara maserasi atau perkolasi penyarian denga air dilakukan dengan car maserasi. Perkolasi atau disiram dengan air mendidih.
      Pada pembuatan sediaan ekstrak dimaksudkan agar zat berkhasiat yang terdapat di simplisia terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar yang tinggi dan hal ini memudahkan zat berkhasiat dapat diatur dosisnya. Dalam sediaan ekstrak dapat distandarisasikan kadar zat berkhasiat sedangkan kadar zat berkhasiat dalam simplisia sukar di dapat yang sama. (muh.arief . 2010)
      Menurut FI Edisi IV, ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia heawni menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut di uapkan dan massa atau serbuk yang beku yang ditetepkan. (syamsuni, 2006)
      Menurut literatur lain, ekstrak ada 3 macam yaitu ekstrak kering (sickum) kental (spicum), dsn cair (liquidum), yang dibuat sesuai diluar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak yang kering namun mudah di gerus menjadi serbuk. Cairan penyari yang dipakai adalah air, eter, campuran etanol dan air. (syamsuni, 2006)
      Ekstrak dapt dibedakan menjadi 3 golongan:
1.      Ekstrak terstandarisasi (sejati)
Ekstrak terstandarisasi sejati adalah ekstrak dengan kandungan aktif (tunggal atau banyak) yang diketahui. Oleh karena itu, ekstrak tersebut dapat distandarisasi menjadi kandungan aktif yang jelas serta jumlah pasti bahan alam aktifnya.
2.      Ekstrak terkuantifikasi
Ekstrak ini merupakan dengan kandungan yang memiliki aktifitas terapuitik atau parakolakis yang diketahui.
3.      Ekstrak lain
Ekstrak-ekstrak ini umumnya dipakai secara parakalikis namun zat yang m,emberikan aktifitas ini tidak diketahui sehingga harus dibuat penanda mutu. (diuslas kingdom 2009)
      Metode dasar dari ekstraksi adalah maserasi atau perkolasi. Biasanya metode ektraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperi sifat dari bahan mentah obat dan day penesuaian denga tiap macam metode ekstark yang sempurna atau mendekati sempurna dari obat sifat dari bahan mentah merupaka faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode ekstraksi. Beberapa obat tidak dapat diperkolasi ynag mengisyaratkan bahwa harus dapdt digiling sehingga menjadi serbuk yang rata dan dimasukkan kedalam perkolator dengan memadatkan dan diratakan obat lain. Walaupun dapat dimasukkan kedalam perkolator dapat melepadskan zat aktifnya dengan mudah kedalam pelarut, diaman benar-benar dibutuhka untuk direndam didalamnya untuk menyediakan ekstrak yang memuaskan. Bahan tersbut dapat diekstrkasi dengan maserasi bukan dengan perkolasi. Proses perkolasi mrupakan keterampilan operator yang lebih abnak dari pada proses maserasi dan dari kedua proses memerlukan peralatan yang khusus dan waktu yang lebih banyak diperlukan oleh operator. (howard C. Ansel,1989)






B.     Uraian Metode
1.      Metode Maserasi
Maserasi merupakan car apenyarian yang sederahana. Maserasi dilakukan dengan car amerandam serbuk simplisia dalam cairan penyari.
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzen, serat, dan lain-lain.
Cairan penyari digunakan dpat berupa air, etanol, etanol air, etanol atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencagah timbulnya kapang, dapat ditambahkan pengawet yang diberikan pada awal penyarian.
Keuntungan penyarian dengan cara maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederahana dan mudah diusakan.
Kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna
2.      Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplsia yang telah dibasahi.
            Prinsip perkolasi adalah serbuk simpliksia yang ditempatkan dalam suatu bejana silender yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari di alirkan dari atas kebawah melalui serbuk tersebut. Cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel ayng dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak dibawah disebabkan oleh kekuatan gayanya sendiri adan cairan diaatasnya, dikurangi dengan daya kapiler ya ng cenderung menahan.(djoko hargono, dkk, 1986)













C.     Uraian Tumbuhan
1.      Klasifikasi Miana Merah (Coleus sp)
Regnum           : Plantarum
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Class                : dicotyledonae
Ordo                : Solanales
Family             : Labilataceae
Genus              : Coleus
Spesies            : Coleus sp
(Anonim 2012)
2.      Morfologi
Herba tegak atau berbaring pada pangkal dan ditempat itu berakar banyak menahan, harum, tinggi 9,5-1,5 m, batang-batang berambut. Tangkai daun 2-9 cm, helai daun bulat telur, dan pangkal yang membulat atau bentuk biji dan ujung yang menyempit, diatas pangkal yang tepi beringggit kasar, bebbeda berambut dan warna. Bung dalam anak payung yang berhadapan 0,5-5 cm, yang terkumpul lagi menjadi tandan lepas di ujung atau mulai yang bercabang lebar. Anak tangkai daun berambut dan terdapat bintik kelenjar kuning banayak, panjng 2-3 mm.(Van stoense, dkk, 1972)
3.      Kegunaan
Sebagai obat wasir, pemulih haid, penambah nafsu makan (Anonim 2012)
D.    Uraian Bahan
1.      Alkohol (Depkes RI 1979, hal.65)
Nama resmi                 : AETHANOLUM
Nama lain                    : alkohol
Rumus molekul           : C2H6O
Berat molekul              : 46,07
Pemerian                     :
cairan tidak berwarna, tengik, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas; rasa panas; mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan                    :
sangat mudah larut dalam air dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan               :
dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya; ditempat sejuk jauh dari nyala api.
Khasiat                        : zat tambahan

2.      Aquadest (Depkes RI 1979, hal. 96)
Nama resmi                 : AQUA DESTILLATA
Nama lain                    : air suling
Rumus molekul           : H2O
Berat molekul              : 18,02
Pemerian                     :
cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa

Penyimpanan               : dalam wadah tertutup baik

Tidak ada komentar:

Posting Komentar