BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Pada tubuh manusia, mineral berperan dalam proses fisiologis.
Dalam sistem fisiologis manusia, mineral tersebut dibagi menjadi dua bagian
yaitu makroelemen antara lain kalsium (Ca), fosfor (P), kalium (K), sulfur (S),
natrium (Na), klor (Cl) dan magnesium (Mg), dan mikroelemen antara lain besi
(Fe), iodium (I), tembaga (Cu), seng (Zn), mangan (Mn), dan kobalt (Co).
(Darmono, 1995) Natrium merupakan ion utama dari cairan ekstraselular.
Sedangkan kalium merupakan ion utama di dalam cairan intraselular. Rasio konsumsi
natrium terhadap kalium yang dianjurkan adalah 1:1 (Astawan, 2002).
Ginjal adalah regulator utama dalam keseimbangan
senyawa-senyawa. Kalium dan Natrium berperan dalam mengatur tekanan osmosis
cairan tubuh sehingga sangat diperlukan dalam fungsi saraf yaitu penyampaian
impuls saraf (neurotransmiter). (Darmono,1995)
Ginjal merupakan organ tubuh yang sangat berperan dalam upaya
mempertahankan sistem keseimbangan dalam tubuh. Peran ginjal ini dikenal dengan
istilah homeostatis. Proses menuju keseimbangan berkaitan dengan segala aspek
di dalam tubuh yang meliputi keseimbangan unsur-unsur esensial yang diperlukan
di dalam tubuh, mengontrol volume cairan dalam tubuh, menjaga keseimbangan
antara senyawa yang bersifat asam dan basa, serta menjaga keseimbangan
konsentrasi senyawa-senyawa di dalam cairan tubuh dan tekanan darah. (Bambang
Mursito, 2001)
Ginjal adalah mesin pendaur ulang yang canggih. Setiap hari,
ginjal kita menguraikan kurang lebih 200 liter darah untuk menyaring sekitar
dua liter bahan ampas dan air berlebihan. Bila ginjal kita tidak
menghilangkannya, bahan ampas ini akan bertumpuk dalam darah dan merusak tubuh
kita. Proses penyaringan terjadi di unsur sangat kecil di dalam ginjal kita
yang disebut nefron.
B.
Rumusan
masalah
1.
Apa itu penyakit batu ginjal?
2.
Bagaimana proses terbentuknya penyakit batu ginjal?
3.
Bagaimana gelaja penyakit batu ginjal?
4.
Jenis tanaman apa sajakah yang dapat mengobati penyakit batu
ginjal?
5.
Bagaiman Sifat dan kandungan kimia yang terdapat dalam
tanaman diatas yang memiliki fungsi yang sama dalam mengobati batu ginjal?
6.
Bagaimana cara pengobatan penyakit batu ginjal?
C.
Tujuan
1.
Untuk mengetahui dan memahami apa itu penyakit batu ginjal
dan proses terbentuknya
2.
Untuk mengetahui tanaman yang dapat mengobati penyakit batu
ginjal dan cara pengobatannya serta kandungan kimia yang dimiliki tanaman
tersebut yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Penyakit Batu
Ginjal
Salah satu organ tubuh manusia yang penting
adalah ginjal. Organ ini mempunyai fungsi untuk menyaring pembuangan elektrolit
tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat-zat kimia tubuh seperti kalium dan
sodium di dalam darah atau memproduksi urine. fungsi dari ginjal ini bisa
mengalami penurunan dan bahkan bisa tidak mampu bekerja sama sekali atau yang
biasa disebut penyakit gagal ginjal. Gagal ginjal adalah kondisi dimana ginjal
gagal berfungsi dan fungsinya hanya 15 % dari yang seharusnya.
Batu ginjal terletak didalam saluran kantung
kemih sehingga memiliki hubungan langsung antara saluran kandung kemih dan
tempat pembuangan air seni. Batu ginjal yang terletak di dalam saluran kemih
(kalkulus uriner) merupakan massa keras yang berbentuk seperti batu yang berada
di sepanjang saluran kemih dan dapat menyebabkan rasa nyeri, pendarahn, penyempitan
aliran kemih atau infeksi. Batu-batu ginjal ini terbentuk di dalam ginjal
maupun di dalam kanutng kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini
disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis). Bagian tubuh yang sering
mengalami efek dari penyakit batu ginjal adalah seringkali mengalami rasa nyeri
yang berat, rasa tidak nyaman pada bagian perut, panggul atau selangkangan.
Satu dalam setiap 20 orang mengembangkan batu ginjal pada satu ketika dalam
kehidupannya.
B.
Proses
Terbentuknya Penyakit Batu Ginjal
Sebelum air kemih (urin) dikeluarkan melalui saluran terakhir
uretra air kemih disaring oleh glomerulos. Zat yang berguna akan kembali ke
darah, sedangkan zat yang tidak terpakai akan dikeluarkan melalui pembuluh
menuju ke piala ginjal, lalu mengalir lewat saluran yang disebut ureter, lalu
ke kandung kemih. Jika ginjal kekurangan cairan dalam proses pengeluaran
tersebut maka terjadi kekeruhan. Lama-kelamaan mengkristal dan menjadi kerak,
seperti batu. Endapan terjadi karena pekatnya kadar garam dalam air seni yang
ada di ginjal.
Jika turun lagi ke kandung kemih dan bersarang maka disebut
batu kandung kemih. Menurut hasil penelitian, risiko terkena penyakit batu
ginjal lebih banyak dialami pria daripada wanita dengan perbandingan sekitar 3:1.
Umumnya, penderita pada usia produktif (20-50 tahun). Hanya sebagian kecil
penyakit batu ginjal ini menyerang anak-anak.
Berikut paparan secara jelas proses pembentukan batu ginjal
dalam tubuh manusia :
1.
Batu oksalat/kalsium oksalat
·
Asam oksalat yang terbentuk di dalam tubuh manusia berasal
dari metabolisme asam amino dan asam askorbat yakni vitamin C. Asam askorbat
merupakan penyumbang terbesar dari prekursor okalat hingga 30 %.
·
Kalsium oksalat terbentuk hingga 50 % yang dikeluarkan
oksalat urine. Manusia tidak mampu melakukan metabolisme oksalat, sehingga
harus dikeluarkan melalui ginjal. Jika fungsi kerja organ ginjal mengandung
asupan oksalat berlebih akan mengakibatkan peningkatan oksalat yang mendorong
terbentuknya batu oksalat di ginjal / kandung kemih.
2.
Batu struvit
Batu struvit tersusun dari magnesium ammonium fosfat
(struvit) dan kalisum karbonat. Batu struvit terbentuk di pelvis dan kalik
ginjal apabila produksi ammonia meningkat dan pH urine semakin tinggi, sehingga
kelarutan fosfat berkurang. Hal tersebut terjadi akibat adanya infeksi bakteri
pemecah urea yang banyak berasal dari spesies proteus dan providencia,
peudomonas eratia, dan semua spesies klebsiella, hemophilus, staphylococus dan
coryne bacterium pada saluran urine.
3.
Batu
urat
Batu urat umumnya terjadi pada penderita gout atau sejenis
penyakit rematik, pengguna urikosurik misalnya probenesid atau aspirin dan
penderita diare kronis karena kehilangan cairan dan peningkatan konsentarsi
urine serta asidosis yakni pH urine menjadi asam sehingga terjadi penimbunan
yang membentuk asam urat.
4.
Batu
sistina
Sistin merupakan bagian dari asam amino
yang memiliki tingkat kelarutan paling kecil. Kelarutan semakin kecl apabila pH
urine menurun atau menjadi asam. Bila kadar sistin ini tidak dapat larut dan
kemudian mengendap serta membentuk kristal yang kemudian tumbuh di dalam sel
ginjal atau saluran kandung kemih akan membentuk batu ginjal.
5.
Batu
kalium fosfat
Batu kalium fosfat umumnya terjadi pada penderita
hiperkalsiurik yakni kadar kalsium dalam urine yang tinggi atau berlebihnya
asupan kalsium di dalam tubuh yang berasal dari konsumsi susu dan keju.
Penyakit batu ginjal
dapat disebabkan oleh beberapa hal. Berikut ini beberapa faktornya:
1.
Genetik (bawaan)
Ada orang-orang tertentu memiliki kelainan atau gangguan
organ ginjal sejak dilahirkan, meskipun kasusnya relatif sedikit. Anak yang
sejak kecil mengalami gangguan metabolisme khususnya di bagian ginjal, yaitu
air seninya memiliki kecenderungan mudah mengendapkan garam membuat mudah
terbentuk batu.
Karena fungsi ginjalnya tidak dapat bekerja secara normal
maka kelancaran proses pengeluaran air kemih juga mudah mengalami gangguan,
misalnya banyak zat kapur dalam air kemih sehingga mudah mengendapkan batu.
2.
Makanan
Sebagian besar kasus penyakit batu ginjal disebabkan oleh
faktor makanan dan minuman. Makanan-makanan tertentu memang mengandung bahan
kima yang berefek pada pengendapan air kemih, misalnya makanan yang mengandung
kalsium tinggi, seperti oksalat dan fosfat.
3.
Aktivitas
Faktor pekerjaan dan olahraga dapat mempengaruhi penyakit
batu ginjal. Risiko terkena penyakit ini pada orang yang pekerjaannya banyak
duduk lebih tinggi daripada orang yang banyak bediri atau bergerak dan orang
yang kurang berolahraga. Karena tubuh kurang bergerak (baik olahraga maupun
aktivitas bekerja) menyebabkan peredaran darah maupun aliran air seni menjadi
kurang lancar. Bahkan tidak hanya penyakit batu ginjal yang diderita, penyakit
lain bisa dengan gampang menyerang.
C.
Gejala
Penyakit Batu Ginjal
Gejala batu
ginjal yang dapat dirasakan adalah rasa sakit buang air kecil, keinginan bunag
air kecil terus-menerus tetapi hanya sedikit-sedikit yang keluar, sering
terjadi rasa nyeri di pinggang dan demam menggigil. Batu ginjal adalah penyakit
yang ditandai dengan adanya batu pada organ ginjal atau ureter. Gejala-gejala
umum dari munculnya penyakit batu ginjal adalah sebagai berikut :
1.
Buang
air kecil yang semakin sering terjadi.
2.
Nyeri
di bagian pinggang
3.
Terkadang
disertai demam dan kejang
4.
Air
seni berwarna kuning keruh
5.
Adanya
riwayat batu ginjal yang sebelumnya di derita oleh salah satu anggota keluarga
Batu
ginjal yang ukurannya masih sangat kecil atau bahkan belum menyebabkan rasa
sakit. Si penderita tanpa merasa terganggu melakukan aktivitasnya sehari-hari.
Namun, jika batu sudah berukuran cukup besar dan sudah turun ke saluran kemih,
rasa sakit akan sangat mendera. Rasanya nyeri, ngilu yang luar biasa, sampai
tidak kuat untuk menahannya.
Sakit
dirasakan di bagian pinggang kanan dan kiri, kadang sampai pada sekitar
kemaluan. Gejala lain berupa rasa sakti ketika kencing, air kemih keluar
sedikit-sedikit dan kadang disertai keluarnya darah.
Batu ginjal
dapat menimbulkan komplikasi yang tergantung pada lokasi, bentuk dan komposisi
bati ginjal itu sendiri, ada batu ginjal yang bisa keluar dengan sendirinya
bersama dengan urine, tetapi ada pula yang tidak sehingga perlu perawatan
khusus.
Batu
ginjal dengan ukuran kecil, licin dan bulat mungkin bisa keluar terbawa urine,
sedangkan yang berukuran cukup besar dan bentuknya runcing akan menyumbat di
ginjal atau saluran kemih. Kalau tidak segera diobati, sumbatan dan infeksi
ginjal dapat menyebabkan gagal ginjal.
Ukuran
dan bentuk batu ginjal tersebut bermacam-macam, mulai dari yang sangat kecil
(dapat lewat bersama urin tanpa diketahui) sampai yang berukuran 5 cm dan
keras. Rasa sakit terjadi ketika batu terserbut bergerak ke luar dari ginjal
dan bentuknya yang tajam dapat mengakibatkan luka pada dinding penyaring ginjal
atau saluran kemih.
D.
Jenis-Jenis
tanaman Yang Dapat Mengobati Penyakit Batu Ginjal
1.
Kumis Kucing
Orthosiphon
aristatus atau dikenal dengan nama kumis kucing termasuk tanaman dari famili Lamiaceae/Labiatae.
Tanaman ini merupakan salah satu
tanaman obat asli Indonesia yang
mempunyai manfaat dan kegunaan yang cukup banyak dalam menanggulangi berbagai penyakit.
a.
Sejarah
Kumis kucing merupakan tanaman obat berupa
tumbuhan berbatang basah yang tegak. Tanaman ini dikenal dengan berbagai
istilah seperti: kidney tea plants/java tea (Inggris), giri-giri marah
(Sumatera), remujung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan songot koneng (Madura).
Tanaman Kumis kucing berasal dari wilayah Afrika tropis, kemudian menyebar ke
wilayah Asia dan Australia.
b.
Nama Daerah
Kumis kucing (Melayu – Sumatra), kumis
kucing (Sunda), remujung (Jawa), se-salaseyan, songkot koceng (Madura)
c.
Ciri-Ciri Tanaman
Kumis kucing termasuk terna tegak, pada bagian bawah berakar di
bagian buku-bukunya dan tingginya mencapai 2 meter.[2] Batang bersegi empatagak
beralur berbulu pendek atau gundul.[2] Helai daun berbentuk bundar atau lojong, lanset, bundar
telur atau belah ketupat yang
dimulai dari pangkalnya,[2] ukuran
daun panjang 1 – 10cm dan lebarnya 7.5mm – 1.5cm. urat daun sepanjang pinggir berbulu
tipis atau gundul, dimana kedua permukaan berbintik-bintik karena adanya
kelenjar yang jumlahnya sangat banyak, panjang tangkai daun 7 – 29cm. Ciri khas
tanaman ada pada bagian kelopak bunga berkelenjar, urat dan pangkal berbulu
pendek dan jarang sedangkan di bagian yang paling atas gundul. Bunga bibir,
mahkota yang bersifat terminal yakni berupa tandan yang
keluar dari ujung cabang dengan panjang 7-29
cm, dengan ukuran panjang 13 – 27mm, di bagian atas ditutupi oleh bulu pendek
berwarna ungu dan kemudian menjadi putih, panjang tabung 10 –
18mm, panjang bibir 4.5 – 10mm, helai bunga tumpul, bundar. Benang sari
ukurannya lebih panjang dari tabung bunga dan melebihi bibir bunga bagian atas.
Buah geluk berwarna coklat gelap, panjang 1.75 – 2mm. 2.3. gagang berbulu
pendek dan jarang, panjang 1 mm sampai 6 mm.[2
d.
Kegunaan Secara Empiris
Daun Kumis kucing basah maupun kering
digunakan sebagai menanggulangi berbagai penyakit, Di Indonesia daun yang
kering dipakai (simplisia) sebagai obat yang memperlancar pengeluaran air kemih
(diuretik) sedangkan di India untuk
mengobati rematik. Masyarakat menggunakan kumis kucing sebagai obat tradisional
sebagai upaya penyembuhan batuk encok, masuk angin dan sembelit. Disamping itu
daun tanaman ini juga bermanfaat untuk pengobatan radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albuminuria, dan
penyakit syphilis., reumatik dan menurunkan kadar glukosa darah.[2] Selain
bersifat diuretik, kumis kucing juga digunakan sebagai antibakteri.
2.
Keji Beling
Kecibeling (Strobilanthes
crispus) atau juga disebut keci beling, picah beling (Betawi), atau disebut juga enyoh kelo (Jawa)[1] adalah
anggotaAcanthaceae yang
dapat menyembuhkan diabetes. Tumbuhan ini merupakan perdu yang
berasal dari Madagaskar menyebar
ke Indonesia dan
tumbuh subur di Malaysia. Riset terbaru menunjukkan bahwa hanya sedikit riset ilmiah yang ada
pada tumbuhan ini.
a.
Habitat Dan Persebaran
Spesies ini tumbuh di hutan, tepi sungai, tebing-tebing, dan sering
ditanam sebagai tanaman pagar di pekarangan atau taman. Keji beling tersebar
dariMadagaskar sampai Indonesia,[1] dan
tumbuh dari ketinggian 50-1.200 mdpl.[5] Tumbuhan
ini juga mudah berkembangbiak di tanah subur,
agak terlindung, dan tempat terbuka. Di Jawa,
tanaman ini banyak terdapat di pedesaan yang tumbuh sebagai semak. Perbanyakan
tanaman ini dilakukan dengan biji dan setek.
b. Ciri-ciri tanaman herbal
keji beling / sambang getih :
·
Batang : batang
basah berbaring tingginya bisa mencapai 1/4 m.
·
Daun: Bagian
atas berwarna hijau dan bawah berwarna ungu termasuk juga tulang-tulang
daunnya. Tangkai daun panjang, berbulu berhadapan pada pangkalnya, berbentuk
telur lebar atau berbentuk jantung, pada pangkalnya membulat atau berbentuk
jantung, ukuran daun 7 x 4 cm, bagian tepi bergerigi dan kasar.
·
Bunga :
Bunga tanaman herbal keji beling ini kecil, tunggal atau berdua diketiak daun
pelindung.
c. Khasiat Secara Empiris
Manfaat dan
Khasiat Keji Beling sebagai obat disentri, diare (mencret) dan obat batu ginjal
serta dapat juga sebagai penurun kolesterol. Daun tanaman ini selain direbus
untuk diminum airnya, juga dapat dimakan sebagai lalapan setiap hari dan
dilakukan secara teratur.
Daun keji
beling juga kerap digunakan untuk mengatasi tubuh yang gatal kena ulat atau
semut hitam, caranya dengan cara mengoleskan langsung daun keji beling pada
bagian yang gatal tersebut. Untuk mengatasi diare (mencret), disentri, seluruh
bagian dari tanaman ini direbus, selama lebih kurang setengah jam, kudian
airnya diminum. Sama juga prosesnya untuk mengobati batu ginjal.
Sering kita
dengar, banyak orang disekitar lingkungan kita yang menderita penyakit akut
harus menjalani operasi supaya penyakit yang diderita bisa hilang dan dapat
menjalani hidup dengan sehat seperti biasa. Namun hal itu tidak semua orang mau
dan dapat menjalaninya karena beberapa faktor, seperti, faktor usia yang sudah
lanjut, faktor biaya, faktor kesehatan yang tidak mengijinkan, dan
faktor-faktor yang lainnya.
Daun keji
beling juga dapat mengatasi kencing manis dengan cara dimakan sebagai lalapan
secara teratur setiap hari. Demikian pula untuk mengobai penyakit lever (sakit
kuning), ambien (wasir) dan maag dengan cara dimakan secara teratur.
3. Tempuyung
Nama latin
tempuyung, yaitu Sonchus arvensis L.
Nama daerahnya, yaitu Jawa: jombang, J. lalakina, galibug, lempung, rayana
(Sunda), tempuyung (Jawa).
a. Ciri-Ciri
Tanaman
Tempuyung
tumbuh liar di tempat terbuka yang terkena sinar matahari atau sedikit terlindung,
seperti di tebing-tebing, tepi saluran air, atau tanah terlantar, kadang
ditanam sebagai tumbuhan obat. Tumbuhan yang berasal dari Eurasia ini bisa
ditemukan pada daerah yang banyak turun hujan pada ketinggian 50 - 1.650 m dpl.
Terna tahunan, tegak, tinggi 0,6 - 2 m, mengandung getah putih, dengan akar
tunggang yang kuat. Batang berongga dan berusuk. Daun tunggal, bagian bawah
tumbuh berkumpul pada pangkal membentuk roset akar. Helai daun berbentuk lanset
atau lonjong, ujung runcing, pangkal bentuk jantung, tepi berbagi menyirip
tidak teratur, panjang 6 - 48 cm, lebar 3 - 12 cm, warnanya hijau muda.
Daun
yang keluar dari tangkai bunga bentuknya lebih kecil dengan pangkal memeluk
batang, letak berjauhan, berseling. Perbungaan berbentuk bonggol yang tergabung
dalam malai, bertangkai, mahkota bentuk jarum, warnanya kuning cerah, lama
kelamaan menjadi merah kecokelatan. Buah kotak, berusuk lima, bentuknya
memanjang sekitar 4 mm, pipih, berambut, cokelat kekuningan. Ada keaneka-ragaman
tumbuhan ini. Yang berdaun kecil disebut lempung, dan yang berdaun besar dengan
tinggi mencapai 2 m disebut rayana. Batang muda dan daun walaupun rasanya pahit
bisa dimakan sebagai lalap. Perbanyakan dengan biji.
b. Khasiat
Secara empiris
Karena kandungan kimia tanaman tempuyung yang sangat
beragam maka khasiatnya tidak hanya terbatas untuk pengobatan batu ginjal.
Herba ini juga baik untuk mengobati rematik (gout), wasir (ambeien), darah
tinggi (hipertensi), radang usus buntu, radang payudara, bisul, memar, dan luka
bakar.
E.
Sifat Dan Kandungan
Kimia Yang Terdapat Dalam Tanaman Diatas Yang Dapat Mengobati Penyakit Batu
Ginjal
1.
Tanaman Kumis Kucing
Kandungan kimia kumis kucing yang telah diketahui
adalah orthosiphon glikosida, minyak atsiri, sponin, sopofonin, kalium. Setiap 100
gram daun segar terdapat 738 mg kalium. Kumis kucing memiliki sifat sejuk dan
sedikit pahit. Senyawanya berkhasiat mengobati penyakit batu ginjal karena
memiliki efek penghancur batu, peluruh air seni (diuretik), dan antiradang
(antiinflamasi).
2.
Tanaman Keji Beling
Daun keji beling mengandung kalium, natrium, kalsium,
asam sitrat, dan kandungan senyawa lain. Sifat keji beling terhadap pengobatan,
yaitu sebagai peluruh kencing (diuretik) serta penghancur batu ginjal, batu
ureter, maupun batu kandung kemih. Selain itu, memiliki sifat sebagai pencahar
3.
Tanaman tempuyung
Tanaman tempuyung mengandung kalium, flafonoid, taraksasterol, inositol,
silika, alfa lactucerol, dan beta laktucerol. Sifat tanaman ini, yaitu dingin
dan agak pahit sehingga cocok masuk meridian ginjal, penghancur batu ginjal,
peluruh air seni (diuretik), antidemam, dan penghilang bengkak.
Dari ketiga tanaman tersebut sama-sama mengandung kalium dan mempunyai fungsi empiris sebagai berikut:
Kalium adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik
yang memiliki lambang K dan nomor atom 19. Kalium berbentuk logam lunak
berwarna putih keperakan dan termasuk golongan alkali tanah. Secara alami,
kalium ditemukan sebagai senyawa dengan unsur lain dalam air laut atau mineral
lainnya. Kalium teroksidasi dengan sangat cepat dengan udara, sangat reaktif
terutama dalam air, dan secara kimiawi memiliki sifat yang mirip dengan
natrium. Dalam bahasa Inggris, kalium disebut potassium.
Kalium dalam cairan ekstrasel memasuki semua jaringan
dalam tubuh dan dapat mempunyai efek yang sangat besar pada fungsi
organ, terutama depolarisasi dan kontraksi jantung. Ginjal tidak dapat
menghemat ion kalium seefektif ginjal menghemat ion natrium. Penghematan
natrium selalu disertai dengan pembuangan kaalium dan ini merupakan efek
aldosteron. Bila intake ion kalium kurang dari kebutuhan minimal, konsentrasi
ion kalium serum akan menurun, ion kalium intarsel juga akan menurun dan
tubulus renalis bersama-sama sel-sel tubuh mulai menggunakan proton (H+)
sebagai pengganti K+ Apabila konsentrasi H+ meningkat
maka akan menyebabkan asidosis intraseluler. Kehilangan K+ obligatorik
oleh tubulus renalis diganti dengan kehilangan H+ obligatorik,
karena tubulus renalis menghemat Na+ dengan
membuang H+ , bukan membuang K+. Hal ini akan
menyebabkan alkalosis ekstraseluler dan asidosis intraseluler.
F.
Cara
Pengobatan Penyakit Batu Ginjal
1.
Tanaman Kumis Kucing
a. Bagian
tanaman Yang Digunakan
Efek farmakologi ini diperoleh dari penggunaan seluruh tanaman atau daun.
b.
Cara Pemakaian
·
Kita Siapkan Dulu sekitar 4 genggam daun kumis kucing.
·
Lalu jangan lupa siapkan pula Daun keji beling sekitar
6 lembar
·
Untuk Menjaga Keberdihan Cuci kedua bahan hingga
bersih
·
Kemudian rebuslah daun daun tersebut dengan tambahan
sedikit gula sampai benar-benar mendidih.
·
Minumlah air rebusan sekitar 10 harian, dengan takaran
2 kali sehari.
2.
Tanaman Keji Beling
a.
Bagian yang digunakan
Daun tanaman keji beling
b.
Cara pemakaian
Daun keji Beling 50 gram, meniran segar 7
batang, daun ungu 7 lembar. Dicuci dulu direbus dengan 4 gelas air sampai
menjadi 2 gelas dinginkan, saring, minum 3 kali 2/3 gelas per hari. atau Daun
keji beling 5 lembar, daun tempuyung segar 5 lembar tongkol jagung 6 buah,
dicuci lalu direbus dengan 5 gelas air bersih sampai tersisa 2 ¼ gelas. Setelah
dingin disaring, dibagi untuk 3 kali minum, habis dalam sehari. Lakukan setiap
hari sampai rasa sakit menghilang.
3.
Tanaman tempuyung
a.
Bagian
Yang Digunakan :
Daun
dan seluruh bagian tanaman.
b.
Cara
Pemakaian :
Daun tempuyung segar sebanyak 5 lembar
dicuci lalu diasapkan sebentar. Makan sebagai lalap bersama makan nasi. Lakukan
3 kali sehari.
BAB II
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa
1.
Penyakit batu ginjal merupakan penyakit
kronis yang sering dialami oleh masyarakat Indonesia.
2. Obstruksi dan infeksi apabila berlangsung lama akan menyebabkan gangguan
fungsi ginjal, bahkan sampai taraf kegagalan fungsi ginjal.
3. Penyakit batu gijal dapat di tangani dengan
pengobatan tradisional dengan mengkomsumsi tanaman herbal seperti tanaman kumis
kucing, keji beling, dan tempuyung.
4. Pada ketiga tanaman tersebut mengandung zat
kimia intraselular yaitu kalium yang berfungsi untuk menghancurkan batu ginjal
yang menyumbat saluran kemih.
B.
saran
1. Mahasiswa seharusnya dapat mengetahui
ciri khas dan penyebab terbentuknya penyakit batu ginjal
2.
Dalam mengobati suatu penyakit hendaknya menggunakan tanaman
herbal dimana khasiatnya lebih bermanfaat dibandingkan obat sintetik
3.
Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari dosen permbimbing
demi kesempurnaan makalah ini.
DAFTAR
PUSTAKA
Wijayakusuma
Hembing dkk, 1995. Tanaman Berkhasiat
Obat Di Indonesia, jilid 1, Pustaka Kartini ;Jakarta,
Kartasapoetra,
G, 1992. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat,
Penerbit Rineka Cipta, Jakarta,
Djoko
Hargono Drs, Pedoman Kader dkk, 1991.Pemanfaatan
Tanaman Obat Untuk Kesehatan Keluarga Departemen Kesehatan, Dirjen.
Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Jakarta