Selasa, 14 Januari 2014

laporan galenika

BAB I
PENDAHULUAN

Farmakogalenika (galenika) adalah ilmu yang mempelajari soal-aoal yang timbul karena mempergunakan tumbuh-tumbuhan atau hewan sebagai obat-obatn lain, cara-cara untuk membusat rebusan dari tanaman obat.
(Hmf, unhas, 1989)
            Istilah galenika diambil dari anam seorang tabib yunani yaitu glaudius galenus galen yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan, sehingga timbullah ilmu obat-obatan yang disebut galenika, jadi galenous sangat berjasa dalam  bidang galenika karena telah merintis dan mencatat cara pembuatan sediaan galenika.
            Sedaiaan gelinaka adalah yang di buat dari bahan-bahan hewan atau tumbuhan yang diambil sarinya. Zat-zat yang tersari (berkhasiat) biasanya terdapat dalam sel-sel bagian tumbuhan uyang umumnya dalam keadaan kering. Cairan penyari masuk kedalam zat-zat berkhasiat utama dari pada simplisia yang akan di ambil sarinya, kemudian zat berkhasiat tersebut akan terbawa larut dalam cairan penyari, setelah itu larutan yang mengandung zat berkhasiat dipisahkan dari bagian simplisia yang kurang bermanfaat.
            Penyarian adalah kegiaan penarikan zat yang dapat larut dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair, simplisia yang disari mengandung zat aktif yang dapat larut, dan zat yang tidak larut seperti serat, karbohidrat, protein, dab lain-lain. Bentuk-bentuk sediaan galenika adalah; ekstrak, tincture, decocta/infus. Hasil penyulingan atau pemerasan; aqua aromatik, minyak menguap (aloe velancia) dan olea pinguila (minyak lemak).
(joko hargono, diskus. 1986)
            Adapun maksud percoaan adalah untuk membuat ekstrak atau cara mengekstraksi bahan atau sampel dari miana merah
            Adapun tujuan percobaan adalah untuk mengetahui dan memahami cara pembuatan ekstrak dari bahan atau sampel miana merah
            Adapun prinsip percobaan adalah berdasarkan proses penyarian dimana miana merah direndam didalam alkohol kemudian ditutup dengan aluminium foil dan di dibiarkan selama 5x24 jam yang kemudian disari dan diambil ekstraknya.
                                                                                                        



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.    Teori Ringkas
Ekstrak adalah sediaan yang dapat berupa kering, kental dan cair dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang sesuai, yaitu maserasi, perkolasi, atau penyeduhan dengan air mendidih, sebagai cairan penyari digunsksn air, eter atau campuran air, dialkukan dengan cara maserasi atau perkolasi penyarian denga air dilakukan dengan car maserasi. Perkolasi atau disiram dengan air mendidih.
      Pada pembuatan sediaan ekstrak dimaksudkan agar zat berkhasiat yang terdapat di simplisia terdapat dalam bentuk yang mempunyai kadar yang tinggi dan hal ini memudahkan zat berkhasiat dapat diatur dosisnya. Dalam sediaan ekstrak dapat distandarisasikan kadar zat berkhasiat sedangkan kadar zat berkhasiat dalam simplisia sukar di dapat yang sama. (muh.arief . 2010)
      Menurut FI Edisi IV, ekstrak adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari simplisia nabati atau simplisia heawni menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian semua atau hampir semua pelarut di uapkan dan massa atau serbuk yang beku yang ditetepkan. (syamsuni, 2006)
      Menurut literatur lain, ekstrak ada 3 macam yaitu ekstrak kering (sickum) kental (spicum), dsn cair (liquidum), yang dibuat sesuai diluar pengaruh cahaya matahari langsung. Ekstrak yang kering namun mudah di gerus menjadi serbuk. Cairan penyari yang dipakai adalah air, eter, campuran etanol dan air. (syamsuni, 2006)
      Ekstrak dapt dibedakan menjadi 3 golongan:
1.      Ekstrak terstandarisasi (sejati)
Ekstrak terstandarisasi sejati adalah ekstrak dengan kandungan aktif (tunggal atau banyak) yang diketahui. Oleh karena itu, ekstrak tersebut dapat distandarisasi menjadi kandungan aktif yang jelas serta jumlah pasti bahan alam aktifnya.
2.      Ekstrak terkuantifikasi
Ekstrak ini merupakan dengan kandungan yang memiliki aktifitas terapuitik atau parakolakis yang diketahui.
3.      Ekstrak lain
Ekstrak-ekstrak ini umumnya dipakai secara parakalikis namun zat yang m,emberikan aktifitas ini tidak diketahui sehingga harus dibuat penanda mutu. (diuslas kingdom 2009)
      Metode dasar dari ekstraksi adalah maserasi atau perkolasi. Biasanya metode ektraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperi sifat dari bahan mentah obat dan day penesuaian denga tiap macam metode ekstark yang sempurna atau mendekati sempurna dari obat sifat dari bahan mentah merupaka faktor utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih metode ekstraksi. Beberapa obat tidak dapat diperkolasi ynag mengisyaratkan bahwa harus dapdt digiling sehingga menjadi serbuk yang rata dan dimasukkan kedalam perkolator dengan memadatkan dan diratakan obat lain. Walaupun dapat dimasukkan kedalam perkolator dapat melepadskan zat aktifnya dengan mudah kedalam pelarut, diaman benar-benar dibutuhka untuk direndam didalamnya untuk menyediakan ekstrak yang memuaskan. Bahan tersbut dapat diekstrkasi dengan maserasi bukan dengan perkolasi. Proses perkolasi mrupakan keterampilan operator yang lebih abnak dari pada proses maserasi dan dari kedua proses memerlukan peralatan yang khusus dan waktu yang lebih banyak diperlukan oleh operator. (howard C. Ansel,1989)






B.     Uraian Metode
1.      Metode Maserasi
Maserasi merupakan car apenyarian yang sederahana. Maserasi dilakukan dengan car amerandam serbuk simplisia dalam cairan penyari.
Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzen, serat, dan lain-lain.
Cairan penyari digunakan dpat berupa air, etanol, etanol air, etanol atau pelarut lain. Bila cairan penyari digunakan air maka untuk mencagah timbulnya kapang, dapat ditambahkan pengawet yang diberikan pada awal penyarian.
Keuntungan penyarian dengan cara maserasi adalah cara pengerjaan dan peralatan yang digunakan sederahana dan mudah diusakan.
Kerugian cara maserasi adalah pengerjaannya lama dan penyariannya kurang sempurna
2.      Perkolasi
Perkolasi adalah cara penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplsia yang telah dibasahi.
            Prinsip perkolasi adalah serbuk simpliksia yang ditempatkan dalam suatu bejana silender yang bagian bawahnya diberi sekat berpori. Cairan penyari di alirkan dari atas kebawah melalui serbuk tersebut. Cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel ayng dilalui sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak dibawah disebabkan oleh kekuatan gayanya sendiri adan cairan diaatasnya, dikurangi dengan daya kapiler ya ng cenderung menahan.(djoko hargono, dkk, 1986)













C.     Uraian Tumbuhan
1.      Klasifikasi Miana Merah (Coleus sp)
Regnum           : Plantarum
Divisi               : Spermatophyta
Subdivisi         : Angiospermae
Class                : dicotyledonae
Ordo                : Solanales
Family             : Labilataceae
Genus              : Coleus
Spesies            : Coleus sp
(Anonim 2012)
2.      Morfologi
Herba tegak atau berbaring pada pangkal dan ditempat itu berakar banyak menahan, harum, tinggi 9,5-1,5 m, batang-batang berambut. Tangkai daun 2-9 cm, helai daun bulat telur, dan pangkal yang membulat atau bentuk biji dan ujung yang menyempit, diatas pangkal yang tepi beringggit kasar, bebbeda berambut dan warna. Bung dalam anak payung yang berhadapan 0,5-5 cm, yang terkumpul lagi menjadi tandan lepas di ujung atau mulai yang bercabang lebar. Anak tangkai daun berambut dan terdapat bintik kelenjar kuning banayak, panjng 2-3 mm.(Van stoense, dkk, 1972)
3.      Kegunaan
Sebagai obat wasir, pemulih haid, penambah nafsu makan (Anonim 2012)
D.    Uraian Bahan
1.      Alkohol (Depkes RI 1979, hal.65)
Nama resmi                 : AETHANOLUM
Nama lain                    : alkohol
Rumus molekul           : C2H6O
Berat molekul              : 46,07
Pemerian                     :
cairan tidak berwarna, tengik, mudah menguap dan mudah bergerak; bau khas; rasa panas; mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap.
Kelarutan                    :
sangat mudah larut dalam air dalam kloroform P dan dalam eter P
Penyimpanan               :
dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya; ditempat sejuk jauh dari nyala api.
Khasiat                        : zat tambahan

2.      Aquadest (Depkes RI 1979, hal. 96)
Nama resmi                 : AQUA DESTILLATA
Nama lain                    : air suling
Rumus molekul           : H2O
Berat molekul              : 18,02
Pemerian                     :
cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan tidak berasa

Penyimpanan               : dalam wadah tertutup baik

materi medika dan terapi

BAB I
PENDAHULUAN
A.        Latar Belakang

Pada tubuh manusia, mineral berperan dalam proses fisiologis. Dalam sistem fisiologis manusia, mineral tersebut dibagi menjadi dua bagian yaitu makroelemen antara lain kalsium (Ca), fosfor (P), kalium (K), sulfur (S), natrium (Na), klor (Cl) dan magnesium (Mg), dan mikroelemen antara lain besi (Fe), iodium (I), tembaga (Cu), seng (Zn), mangan (Mn), dan kobalt (Co). (Darmono, 1995) Natrium merupakan ion utama dari cairan ekstraselular. Sedangkan kalium merupakan ion utama di dalam cairan intraselular. Rasio konsumsi natrium terhadap kalium yang dianjurkan adalah 1:1 (Astawan, 2002).
Ginjal adalah regulator utama dalam keseimbangan senyawa-senyawa. Kalium dan Natrium berperan dalam mengatur tekanan osmosis cairan tubuh sehingga sangat diperlukan dalam fungsi saraf yaitu penyampaian impuls saraf (neurotransmiter). (Darmono,1995)
Ginjal merupakan organ tubuh yang sangat berperan dalam upaya mempertahankan sistem keseimbangan dalam tubuh. Peran ginjal ini dikenal dengan istilah homeostatis. Proses menuju keseimbangan berkaitan dengan segala aspek di dalam tubuh yang meliputi keseimbangan unsur-unsur esensial yang diperlukan di dalam tubuh, mengontrol volume cairan dalam tubuh, menjaga keseimbangan antara senyawa yang bersifat asam dan basa, serta menjaga keseimbangan konsentrasi senyawa-senyawa di dalam cairan tubuh dan tekanan darah. (Bambang Mursito, 2001)
Ginjal adalah mesin pendaur ulang yang canggih. Setiap hari, ginjal kita menguraikan kurang lebih 200 liter darah untuk menyaring sekitar dua liter bahan ampas dan air berlebihan. Bila ginjal kita tidak menghilangkannya, bahan ampas ini akan bertumpuk dalam darah dan merusak tubuh kita. Proses penyaringan terjadi di unsur sangat kecil di dalam ginjal kita yang disebut nefron.

B.        Rumusan masalah
1.    Apa itu penyakit batu ginjal?
2.    Bagaimana proses terbentuknya penyakit batu ginjal?
3.    Bagaimana gelaja penyakit batu ginjal?
4.    Jenis tanaman apa sajakah yang dapat mengobati penyakit batu ginjal?
5.    Bagaiman Sifat dan kandungan kimia yang terdapat dalam tanaman diatas yang memiliki fungsi yang sama dalam mengobati batu ginjal?
6.    Bagaimana cara pengobatan penyakit batu ginjal?


C.        Tujuan
1.    Untuk mengetahui dan memahami apa itu penyakit batu ginjal dan proses terbentuknya
2.    Untuk mengetahui tanaman yang dapat mengobati penyakit batu ginjal dan cara pengobatannya serta kandungan kimia yang dimiliki tanaman tersebut yang dapat menyembuhkan penyakit tersebut.


BAB II
PEMBAHASAN

A.        Penyakit Batu Ginjal

Salah satu organ tubuh manusia yang penting adalah ginjal. Organ ini mempunyai fungsi untuk menyaring pembuangan elektrolit tubuh, menjaga keseimbangan cairan dan zat-zat kimia tubuh seperti kalium dan sodium di dalam darah atau memproduksi urine. fungsi dari ginjal ini bisa mengalami penurunan dan bahkan bisa tidak mampu bekerja sama sekali atau yang biasa disebut penyakit gagal ginjal. Gagal ginjal adalah kondisi dimana ginjal gagal berfungsi dan fungsinya hanya 15 % dari yang seharusnya.
Batu ginjal terletak didalam saluran kantung kemih sehingga memiliki hubungan langsung antara saluran kandung kemih dan tempat pembuangan air seni. Batu ginjal yang terletak di dalam saluran kemih (kalkulus uriner) merupakan massa keras yang berbentuk seperti batu yang berada di sepanjang saluran kemih dan dapat menyebabkan rasa nyeri, pendarahn, penyempitan aliran kemih atau infeksi. Batu-batu ginjal ini terbentuk di dalam ginjal maupun di dalam kanutng kemih (batu kandung kemih). Proses pembentukan batu ini disebut urolitiasis (litiasis renalis, nefrolitiasis). Bagian tubuh yang sering mengalami efek dari penyakit batu ginjal adalah seringkali mengalami rasa nyeri yang berat, rasa tidak nyaman pada bagian perut, panggul atau selangkangan. Satu dalam setiap 20 orang mengembangkan batu ginjal pada satu ketika dalam kehidupannya.

B.        Proses Terbentuknya Penyakit Batu Ginjal
Sebelum air kemih (urin) dikeluarkan melalui saluran terakhir uretra air kemih disaring oleh glomerulos. Zat yang berguna akan kembali ke darah, sedangkan zat yang tidak terpakai akan dikeluarkan melalui pembuluh menuju ke piala ginjal, lalu mengalir lewat saluran yang disebut ureter, lalu ke kandung kemih. Jika ginjal kekurangan cairan dalam proses pengeluaran tersebut maka terjadi kekeruhan. Lama-kelamaan mengkristal dan menjadi kerak, seperti batu. Endapan terjadi karena pekatnya kadar garam dalam air seni yang ada di ginjal.
Jika turun lagi ke kandung kemih dan bersarang maka disebut batu kandung kemih. Menurut hasil penelitian, risiko terkena penyakit batu ginjal lebih banyak dialami pria daripada wanita dengan perbandingan sekitar 3:1. Umumnya, penderita pada usia produktif (20-50 tahun). Hanya sebagian kecil penyakit batu ginjal ini menyerang anak-anak.
Berikut paparan secara jelas proses pembentukan batu ginjal dalam tubuh manusia :
1.     Batu oksalat/kalsium oksalat
·           Asam oksalat yang terbentuk di dalam tubuh manusia berasal dari metabolisme asam amino dan asam askorbat yakni vitamin C. Asam askorbat merupakan penyumbang terbesar dari prekursor okalat hingga 30 %.
·           Kalsium oksalat terbentuk hingga 50 % yang dikeluarkan oksalat urine. Manusia tidak mampu melakukan metabolisme oksalat, sehingga harus dikeluarkan melalui ginjal. Jika fungsi kerja organ ginjal mengandung asupan oksalat berlebih akan mengakibatkan peningkatan oksalat yang mendorong terbentuknya batu oksalat di ginjal / kandung kemih.

2.     Batu struvit
Batu struvit tersusun dari magnesium ammonium fosfat (struvit) dan kalisum karbonat. Batu struvit terbentuk di pelvis dan kalik ginjal apabila produksi ammonia meningkat dan pH urine semakin tinggi, sehingga kelarutan fosfat berkurang. Hal tersebut terjadi akibat adanya infeksi bakteri pemecah urea yang banyak berasal dari spesies proteus dan providencia, peudomonas eratia, dan semua spesies klebsiella, hemophilus, staphylococus dan coryne bacterium pada saluran urine.

3.     Batu urat
Batu urat umumnya terjadi pada penderita gout atau sejenis penyakit rematik, pengguna urikosurik misalnya probenesid atau aspirin dan penderita diare kronis karena kehilangan cairan dan peningkatan konsentarsi urine serta asidosis yakni pH urine menjadi asam sehingga terjadi penimbunan yang membentuk asam urat.
4.     Batu sistina
Sistin merupakan bagian dari asam amino yang memiliki tingkat kelarutan paling kecil. Kelarutan semakin kecl apabila pH urine menurun atau menjadi asam. Bila kadar sistin ini tidak dapat larut dan kemudian mengendap serta membentuk kristal yang kemudian tumbuh di dalam sel ginjal atau saluran kandung kemih akan membentuk batu ginjal.
5.     Batu kalium fosfat
Batu kalium fosfat umumnya terjadi pada penderita hiperkalsiurik yakni kadar kalsium dalam urine yang tinggi atau berlebihnya asupan kalsium di dalam tubuh yang berasal dari konsumsi susu dan keju.


Penyakit batu ginjal dapat disebabkan oleh beberapa hal. Berikut ini beberapa faktornya:
1.      Genetik (bawaan)
Ada orang-orang tertentu memiliki kelainan atau gangguan organ ginjal sejak dilahirkan, meskipun kasusnya relatif sedikit. Anak yang sejak kecil mengalami gangguan metabolisme khususnya di bagian ginjal, yaitu air seninya memiliki kecenderungan mudah mengendapkan garam membuat mudah terbentuk batu.
Karena fungsi ginjalnya tidak dapat bekerja secara normal maka kelancaran proses pengeluaran air kemih juga mudah mengalami gangguan, misalnya banyak zat kapur dalam air kemih sehingga mudah mengendapkan batu.
2.      Makanan
Sebagian besar kasus penyakit batu ginjal disebabkan oleh faktor makanan dan minuman. Makanan-makanan tertentu memang mengandung bahan kima yang berefek pada pengendapan air kemih, misalnya makanan yang mengandung kalsium tinggi, seperti oksalat dan fosfat.
3.      Aktivitas
Faktor pekerjaan dan olahraga dapat mempengaruhi penyakit batu ginjal. Risiko terkena penyakit ini pada orang yang pekerjaannya banyak duduk lebih tinggi daripada orang yang banyak bediri atau bergerak dan orang yang kurang berolahraga. Karena tubuh kurang bergerak (baik olahraga maupun aktivitas bekerja) menyebabkan peredaran darah maupun aliran air seni menjadi kurang lancar. Bahkan tidak hanya penyakit batu ginjal yang diderita, penyakit lain bisa dengan gampang menyerang.

C.        Gejala Penyakit Batu Ginjal
Gejala batu ginjal yang dapat dirasakan adalah rasa sakit buang air kecil, keinginan bunag air kecil terus-menerus tetapi hanya sedikit-sedikit yang keluar, sering terjadi rasa nyeri di pinggang dan demam menggigil. Batu ginjal adalah penyakit yang ditandai dengan adanya batu pada organ ginjal atau ureter. Gejala-gejala umum dari munculnya penyakit batu ginjal adalah sebagai berikut :
1.     Buang air kecil yang semakin sering terjadi.
2.     Nyeri di bagian pinggang
3.     Terkadang disertai demam dan kejang
4.     Air seni berwarna kuning keruh
5.     Adanya riwayat batu ginjal yang sebelumnya di derita oleh salah satu anggota keluarga

Batu ginjal yang ukurannya masih sangat kecil atau bahkan belum menyebabkan rasa sakit. Si penderita tanpa merasa terganggu melakukan aktivitasnya sehari-hari. Namun, jika batu sudah berukuran cukup besar dan sudah turun ke saluran kemih, rasa sakit akan sangat mendera. Rasanya nyeri, ngilu yang luar biasa, sampai tidak kuat untuk menahannya.
Sakit dirasakan di bagian pinggang kanan dan kiri, kadang sampai pada sekitar kemaluan. Gejala lain berupa rasa sakti ketika kencing, air kemih keluar sedikit-sedikit dan kadang disertai keluarnya darah.
Batu ginjal dapat menimbulkan komplikasi yang tergantung pada lokasi, bentuk dan komposisi bati ginjal itu sendiri, ada batu ginjal yang bisa keluar dengan sendirinya bersama dengan urine, tetapi ada pula yang tidak sehingga perlu perawatan khusus.
Batu ginjal dengan ukuran kecil, licin dan bulat mungkin bisa keluar terbawa urine, sedangkan yang berukuran cukup besar dan bentuknya runcing akan menyumbat di ginjal atau saluran kemih. Kalau tidak segera diobati, sumbatan dan infeksi ginjal dapat menyebabkan gagal ginjal.
Ukuran dan bentuk batu ginjal tersebut bermacam-macam, mulai dari yang sangat kecil (dapat lewat bersama urin tanpa diketahui) sampai yang berukuran 5 cm dan keras. Rasa sakit terjadi ketika batu terserbut bergerak ke luar dari ginjal dan bentuknya yang tajam dapat mengakibatkan luka pada dinding penyaring ginjal atau saluran kemih.


D.        Jenis-Jenis tanaman Yang Dapat Mengobati Penyakit Batu Ginjal
1.    Kumis Kucing
Orthosiphon aristatus atau dikenal dengan nama kumis kucing termasuk tanaman dari famili Lamiaceae/Labiatae. Tanaman ini merupakan salah satu tanaman obat asli Indonesia yang mempunyai manfaat dan kegunaan yang cukup banyak dalam menanggulangi berbagai penyakit.
a.      Sejarah
Kumis kucing merupakan tanaman obat berupa tumbuhan berbatang basah yang tegak. Tanaman ini dikenal dengan berbagai istilah seperti: kidney tea plants/java tea (Inggris), giri-giri marah (Sumatera), remujung (Jawa Tengah dan Jawa Timur) dan songot koneng (Madura). Tanaman Kumis kucing berasal dari wilayah Afrika tropis, kemudian menyebar ke wilayah Asia dan Australia.
b.      Nama Daerah
Kumis kucing (Melayu – Sumatra), kumis kucing (Sunda), remujung (Jawa), se-salaseyan, songkot koceng (Madura)
c.      Ciri-Ciri Tanaman
Kumis kucing termasuk terna tegak, pada bagian bawah berakar di bagian buku-bukunya dan tingginya mencapai 2 meter.[2] Batang bersegi empatagak beralur berbulu pendek atau gundul.[2] Helai daun berbentuk bundar atau lojong, lanset, bundar telur atau belah ketupat yang dimulai dari pangkalnya,[2] ukuran daun panjang 1 – 10cm dan lebarnya 7.5mm – 1.5cm. urat daun sepanjang pinggir berbulu tipis atau gundul, dimana kedua permukaan berbintik-bintik karena adanya kelenjar yang jumlahnya sangat banyak, panjang tangkai daun 7 – 29cm. Ciri khas tanaman ada pada bagian kelopak bunga berkelenjar, urat dan pangkal berbulu pendek dan jarang sedangkan di bagian yang paling atas gundul. Bunga bibir, mahkota yang bersifat terminal yakni berupa tandan yang keluar dari ujung cabang dengan panjang 7-29 cm, dengan ukuran panjang 13 – 27mm, di bagian atas ditutupi oleh bulu pendek berwarna ungu dan kemudian menjadi putih, panjang tabung 10 – 18mm, panjang bibir 4.5 – 10mm, helai bunga tumpul, bundar. Benang sari ukurannya lebih panjang dari tabung bunga dan melebihi bibir bunga bagian atas. Buah geluk berwarna coklat gelap, panjang 1.75 – 2mm. 2.3. gagang berbulu pendek dan jarang, panjang 1 mm sampai 6 mm.[2
d.      Kegunaan Secara Empiris
Daun Kumis kucing basah maupun kering digunakan sebagai menanggulangi berbagai penyakit, Di Indonesia daun yang kering dipakai (simplisia) sebagai obat yang memperlancar pengeluaran air kemih (diuretik) sedangkan di India untuk mengobati rematik. Masyarakat menggunakan kumis kucing sebagai obat tradisional sebagai upaya penyembuhan batuk encok, masuk angin dan sembelit. Disamping itu daun tanaman ini juga bermanfaat untuk pengobatan radang ginjal, batu ginjal, kencing manis, albuminuria, dan penyakit syphilis., reumatik dan menurunkan kadar glukosa darah.[2] Selain bersifat diuretik, kumis kucing juga digunakan sebagai antibakteri.

2.    Keji Beling
Kecibeling (Strobilanthes crispus) atau juga disebut keci beling, picah beling (Betawi), atau disebut juga enyoh kelo (Jawa)[1] adalah anggotaAcanthaceae yang dapat menyembuhkan diabetes. Tumbuhan ini merupakan perdu yang berasal dari Madagaskar menyebar ke Indonesia dan tumbuh subur di Malaysia. Riset terbaru menunjukkan bahwa hanya sedikit riset ilmiah yang ada pada tumbuhan ini.

a.      Habitat Dan Persebaran
Spesies ini tumbuh di hutan, tepi sungai, tebing-tebing, dan sering ditanam sebagai tanaman pagar di pekarangan atau taman. Keji beling tersebar dariMadagaskar sampai Indonesia,[1] dan tumbuh dari ketinggian 50-1.200 mdpl.[5] Tumbuhan ini juga mudah berkembangbiak di tanah subur, agak terlindung, dan tempat terbuka. Di Jawa, tanaman ini banyak terdapat di pedesaan yang tumbuh sebagai semak. Perbanyakan tanaman ini dilakukan dengan biji dan setek.
b.      Ciri-ciri tanaman herbal keji beling / sambang getih :
·           Batang : batang basah berbaring tingginya bisa mencapai 1/4 m.
·           Daun: Bagian atas berwarna hijau dan bawah berwarna ungu termasuk juga tulang-tulang daunnya. Tangkai daun panjang, berbulu berhadapan pada pangkalnya, berbentuk telur lebar atau berbentuk jantung, pada pangkalnya membulat atau berbentuk jantung, ukuran daun 7 x 4 cm, bagian tepi bergerigi dan kasar.
·           Bunga : Bunga tanaman herbal keji beling ini kecil, tunggal atau berdua diketiak daun pelindung.
c.      Khasiat Secara Empiris
Manfaat dan Khasiat Keji Beling sebagai obat disentri, diare (mencret) dan obat batu ginjal serta dapat juga sebagai penurun kolesterol. Daun tanaman ini selain direbus untuk diminum airnya, juga dapat dimakan sebagai lalapan setiap hari dan dilakukan secara teratur.
Daun keji beling juga kerap digunakan untuk mengatasi tubuh yang gatal kena ulat atau semut hitam, caranya dengan cara mengoleskan langsung daun keji beling pada bagian yang gatal tersebut. Untuk mengatasi diare (mencret), disentri, seluruh bagian dari tanaman ini direbus, selama lebih kurang setengah jam, kudian airnya diminum. Sama juga prosesnya untuk mengobati batu ginjal.
Sering kita dengar, banyak orang disekitar lingkungan kita yang menderita penyakit akut harus menjalani operasi supaya penyakit yang diderita bisa hilang dan dapat menjalani hidup dengan sehat seperti biasa. Namun hal itu tidak semua orang mau dan dapat menjalaninya karena beberapa faktor, seperti, faktor usia yang sudah lanjut, faktor biaya, faktor kesehatan yang tidak mengijinkan, dan faktor-faktor yang lainnya.
Daun keji beling juga dapat mengatasi kencing manis dengan cara dimakan sebagai lalapan secara teratur setiap hari. Demikian pula untuk mengobai penyakit lever (sakit kuning), ambien (wasir) dan maag dengan cara dimakan secara teratur.
3.    Tempuyung
Nama latin tempuyung, yaitu Sonchus arvensis L. Nama daerahnya, yaitu Jawa: jombang, J. lalakina, galibug, lempung, rayana (Sunda), tempuyung (Jawa).
a.      Ciri-Ciri Tanaman
Tempuyung tumbuh liar di tempat terbuka yang terkena sinar matahari atau sedikit terlindung, seperti di tebing-tebing, tepi saluran air, atau tanah terlantar, kadang ditanam sebagai tumbuhan obat. Tumbuhan yang berasal dari Eurasia ini bisa ditemukan pada daerah yang banyak turun hujan pada ketinggian 50 - 1.650 m dpl. Terna tahunan, tegak, tinggi 0,6 - 2 m, mengandung getah putih, dengan akar tunggang yang kuat. Batang berongga dan berusuk. Daun tunggal, bagian bawah tumbuh berkumpul pada pangkal membentuk roset akar. Helai daun berbentuk lanset atau lonjong, ujung runcing, pangkal bentuk jantung, tepi berbagi menyirip tidak teratur, panjang 6 - 48 cm, lebar 3 - 12 cm, warnanya hijau muda.
Daun yang keluar dari tangkai bunga bentuknya lebih kecil dengan pangkal memeluk batang, letak berjauhan, berseling. Perbungaan berbentuk bonggol yang tergabung dalam malai, bertangkai, mahkota bentuk jarum, warnanya kuning cerah, lama kelamaan menjadi merah kecokelatan. Buah kotak, berusuk lima, bentuknya memanjang sekitar 4 mm, pipih, berambut, cokelat kekuningan. Ada keaneka-ragaman tumbuhan ini. Yang berdaun kecil disebut lempung, dan yang berdaun besar dengan tinggi mencapai 2 m disebut rayana. Batang muda dan daun walaupun rasanya pahit bisa dimakan sebagai lalap. Perbanyakan dengan biji.
b.      Khasiat Secara empiris
Karena kandungan kimia tanaman tempuyung yang sangat beragam maka khasiatnya tidak hanya terbatas untuk pengobatan batu ginjal. Herba ini juga baik untuk mengobati rematik (gout), wasir (ambeien), darah tinggi (hipertensi), radang usus buntu, radang payudara, bisul, memar, dan luka bakar.

E.        Sifat Dan Kandungan Kimia Yang Terdapat Dalam Tanaman Diatas Yang Dapat Mengobati Penyakit Batu Ginjal
1.     Tanaman Kumis Kucing
Kandungan kimia kumis kucing yang telah diketahui adalah orthosiphon glikosida, minyak atsiri, sponin, sopofonin, kalium. Setiap 100 gram daun segar terdapat 738 mg kalium. Kumis kucing memiliki sifat sejuk dan sedikit pahit. Senyawanya berkhasiat mengobati penyakit batu ginjal karena memiliki efek penghancur batu, peluruh air seni (diuretik), dan antiradang (antiinflamasi).

2.     Tanaman Keji Beling
Daun keji beling mengandung kalium, natrium, kalsium, asam sitrat, dan kandungan senyawa lain. Sifat keji beling terhadap pengobatan, yaitu sebagai peluruh kencing (diuretik) serta penghancur batu ginjal, batu ureter, maupun batu kandung kemih. Selain itu, memiliki sifat sebagai pencahar

3.     Tanaman tempuyung
Tanaman tempuyung mengandung kalium, flafonoid, taraksasterol, inositol, silika, alfa lactucerol, dan beta laktucerol. Sifat tanaman ini, yaitu dingin dan agak pahit sehingga cocok masuk meridian ginjal, penghancur batu ginjal, peluruh air seni (diuretik), antidemam, dan penghilang bengkak.

Dari ketiga tanaman tersebut sama-sama mengandung kalium dan  mempunyai fungsi empiris sebagai berikut:
Kalium adalah suatu unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki lambang K dan nomor atom 19. Kalium berbentuk logam lunak berwarna putih keperakan dan termasuk golongan alkali tanah. Secara alami, kalium ditemukan sebagai senyawa dengan unsur lain dalam air laut atau mineral lainnya. Kalium teroksidasi dengan sangat cepat dengan udara, sangat reaktif terutama dalam air, dan secara kimiawi memiliki sifat yang mirip dengan natrium. Dalam bahasa Inggris, kalium disebut potassium.
Kalium dalam cairan ekstrasel memasuki semua jaringan dalam tubuh dan dapat mempunyai efek yang sangat besar pada fungsi organ, terutama depolarisasi dan kontraksi jantung. Ginjal tidak dapat menghemat ion kalium seefektif ginjal menghemat ion natrium. Penghematan natrium selalu disertai dengan pembuangan kaalium dan ini merupakan efek aldosteron. Bila intake ion kalium kurang dari kebutuhan minimal, konsentrasi ion kalium serum akan menurun, ion kalium intarsel juga akan menurun dan tubulus renalis bersama-sama sel-sel tubuh mulai menggunakan proton (H+) sebagai pengganti K+  Apabila konsentrasi H+ meningkat maka akan menyebabkan asidosis intraseluler. Kehilangan K+ obligatorik oleh tubulus renalis diganti dengan kehilangan H+ obligatorik, karena tubulus renalis menghemat Na+ dengan membuang H+ , bukan membuang K+. Hal ini akan menyebabkan alkalosis ekstraseluler dan asidosis intraseluler.


F.        Cara Pengobatan Penyakit Batu Ginjal
1.     Tanaman Kumis Kucing
a.     Bagian tanaman Yang Digunakan
Efek farmakologi ini diperoleh dari penggunaan seluruh tanaman atau daun. 
b.      Cara Pemakaian
·            Kita Siapkan Dulu sekitar 4 genggam daun kumis kucing.
·            Lalu jangan lupa siapkan pula Daun keji beling sekitar 6 lembar
·            Untuk Menjaga Keberdihan Cuci kedua bahan hingga bersih
·            Kemudian rebuslah daun daun tersebut dengan tambahan sedikit gula sampai benar-benar mendidih.
·            Minumlah air rebusan sekitar 10 harian, dengan takaran 2 kali sehari.
2.     Tanaman Keji Beling
a.      Bagian yang digunakan
Daun tanaman keji beling
b.      Cara pemakaian
Daun keji Beling 50 gram, meniran segar 7 batang, daun ungu 7 lembar. Dicuci dulu direbus dengan 4 gelas air sampai menjadi 2 gelas dinginkan, saring, minum 3 kali 2/3 gelas per hari. atau Daun keji beling 5 lembar, daun tempuyung segar 5 lembar tongkol jagung 6 buah, dicuci lalu direbus dengan 5 gelas air bersih sampai tersisa 2 ¼ gelas. Setelah dingin disaring, dibagi untuk 3 kali minum, habis dalam sehari. Lakukan setiap hari sampai rasa sakit menghilang.
3.     Tanaman tempuyung
a.      Bagian Yang Digunakan :
Daun dan seluruh bagian tanaman.
b.      Cara Pemakaian :
Daun tempuyung segar sebanyak 5 lembar dicuci lalu diasapkan sebentar. Makan sebagai lalap bersama makan nasi. Lakukan 3 kali sehari.



BAB II
PENUTUP
A.        Kesimpulan

Dari hasil pembahasan diatas dapat disimpulkan bahwa
1.    Penyakit batu ginjal merupakan penyakit kronis yang sering dialami oleh masyarakat Indonesia.
2.    Obstruksi dan infeksi apabila berlangsung lama akan menyebabkan gangguan fungsi ginjal, bahkan sampai taraf kegagalan fungsi ginjal. 
3.    Penyakit batu gijal dapat di tangani dengan pengobatan tradisional dengan mengkomsumsi tanaman herbal seperti tanaman kumis kucing, keji beling, dan tempuyung.
4.    Pada ketiga tanaman tersebut mengandung zat kimia intraselular yaitu kalium yang berfungsi untuk menghancurkan batu ginjal yang menyumbat saluran kemih.

B.        saran
1.    Mahasiswa seharusnya dapat mengetahui ciri khas dan penyebab terbentuknya penyakit batu ginjal
2.    Dalam mengobati suatu penyakit hendaknya menggunakan tanaman herbal dimana khasiatnya lebih bermanfaat dibandingkan obat sintetik
3.    Saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari dosen permbimbing demi kesempurnaan makalah ini.





















DAFTAR  PUSTAKA

Wijayakusuma Hembing  dkk, 1995. Tanaman Berkhasiat Obat Di Indonesia, jilid 1, Pustaka  Kartini ;Jakarta,

Kartasapoetra, G, 1992. Budidaya Tanaman Berkhasiat Obat, Penerbit  Rineka Cipta, Jakarta,

Djoko Hargono Drs, Pedoman  Kader dkk, 1991.Pemanfaatan Tanaman Obat Untuk Kesehatan Keluarga Departemen Kesehatan, Dirjen.  Pembinaan Kesehatan Masyarakat, Jakarta